Rabu, 24 Juli 2013

Gunung Rinjani-Surga Impian Para Pendaki

Gunung rinjani, adalah jutaan impian bagi para pendaki. Yah gunung yang menawarkan berjuta panoramanya mampu membius perhatian dari segala penjuru negeri. Perjalanan kopi liar kini menapaki surge kecil di Nusa Tenggara Barat. Berawal dari runtutan perjalanana yang sudah-sudah, kali ini kita menyiapkan segala sesuatunya secara sangat matang. Dari segala hal terkecil hingga pembagian Jobdesk pada masing2 tim sudah tertata rapi di  awal perbincangan. Berangkat dari St. Lempuyangan Yogyakarta, kita yang berjumlah 20 orang memberanikan diri untuk menengok kagum yang selam ini hanya tersirat oleh telinga. Rinjani masih pada kemegahan yang elok, bersila suci di atas savanna yang membentang.

Kereta Sri Tanjung mengawali jejak tapak langkah kita, Rp. 35.000 dulu tariff yang ditawarkan oleh KAI di setiap orangnya tak murung kita untuk membelinya. Harga yang sangat mura untuk perjalanan panjang di dalam gerbong besi yang tak bertingkat ini. Pukul 07.30 wib tepat, kami perlahan meninggalkan jogja, dengan kecil senyum melihat kota kita yang masih tetap nyaman dihuni sekitar lebih dari 40.000 Mahasiswa ini.

Detik masih perlahan menuju waktu terik matahari yang mulai memanas. Siang itu menghamipiri kita sebuah kota Metropolitan yang berselimut gedung. Yah, Surabaya tepatnya, sekitar pukul 14.00 wib kita dalam separuh perjalanan yang mencekam. Lapar menghampiri pada pergantian siang-sore, juga tentang laju kereta yang tetap berputar pada porosnya.

Selamat tinggal sejenak Surabaya, kita sejenak menuai rindu oleh gerlap malam mu yang kau tawarkan dulu. Menuju Banyuwangi kini, gerbong demi gerbong perlahan melesat. Menebas sawah juga perumahan padat di tepi rel kereta, sesekali teat kereta melaju pesat, terhempas lari sehelai baju oleh terpa kencang laju ini.

Kini malam masih bersahabat pada kita di pergantiannya,  rona kuning oleh kokohnya mahameru saat itu raihku takjub dengan biasnya. Yah, dari samping gerbong jendela sudut ini, Nampak persemayamaan para dewa itu, Mahameru. Kabar baik kulontarkan setiap malammku, untuk mengais lelah menuju ranukumbolo mu yang lugu.

Lapar kedua kini memanggil temannya, seolah mengajak menyantap nasi dengan lauk kering tempe yang kita bawa.Sekitar pukul 20.00 wib akhirnya bungkusan itu kita buka kembali, dengan niat sepenuh hati untuk mengenyagkan perut pada malam yang panjang ini. Masih sekitar 3jam perjalanan lagi, kita masih dipaksa bertempur dengan besi tua milik KAI. Dan menunggu yang nantinya siapa bakal memenangkannya. Tawa kita masih utuh, walau sesekali angin luar masuke dalam celah gerbong malam itu.

Hingga pada saat terdengar kalau ending of train ini berakhir pada pukul 23.00 WIT. Saatnya berkemas, karena kita harus menuju pelabuhan untuk selanjutnya naik kapal fery menuju Bali. Yap, pulau Dewata, sebuah surge elok juga yang Indonesia miliki. Beragam keindahan dan tradisi nya mengentalkan bahwa hanya kita dan negeri ini yang memilikinya. Dan tak lama juga tak begitu jauh dari stasiun kita menuju penyebrangan untuk membeli tiket fery yang saat itu hargannya Rp. 6000. Jangan lupa bawa KTP ya, karena setelah kasus Bom bali, siapapun wrga Indonesia sengaja diperiksa KTP/Identitasnya agar menjaga Bali dari aksi-aksi teroriseme yang tidak di inginkan Pulau Dewata ini.

Serambi menunggu teman yang sebagian masih berjalan, terlihat lampu mungil di sudut mala mini menjadikan perjalanan ini semakin bercahaya. Semangat kita mengebu, se lantang ombak yang di pantai membelah terpecah pematang penat rutinitas kita. Dan kini kita akan mengarungi lautan, menyingkir sejenak dari pulau Jawa.

Menjajal malam dengan gelombang, di atas deck terlepas tawa yang bingar. Hingga kita menginjakkan Di pulau bali.  Dan masih bertarung menuju pagi, langkah kita masih panjang. Menggunakan mini bus jurusan pelabuhan penyebrangan Bali-Lombok, kita menjemput fajar lewat dinding kaca jendela. Dengan tarif Rp. 30.000 akhirnya perlahan kita melibas malam menuju dermaga selanjutnya.  Terlelap kita melewati setiap tikungan tajam yang sepenuhnya di kuasai oleh sopir bis malam itu.

Dan tiba kita di pelabuhan penyebrangan Bali-Lombok. Mendekati mimpi serasa dan juga yang kita rasakan saat itu. Nampak Gn Agung merobek ego karena ketakjuban yang dia sampaikan. Rp. 38.000 tarif ferry yang harus dibayar untuk per orangnya di perjalanan 5jam di tengah Samudra. Waktu yang lumayan lama, namun kembali di atas deck gurau itu mengalahkan detik hingga menit yang berjalan. Terlihat wisatawan asing menggendong tas Cariernya, bersiap untuk memeperkosa Indonesiaku oleh keindahannya.

Lanjut perjalanan, satu per satu Truck bis dan kendaraan pribadi melewati kita dalam barisan kepadatan kapal ini. Disana terlihat banyak calo angkutan yang menawarkan untuk menaiki kendaraan mereka dan kita akhrnya memilih untuk menuju pasar Aikmel terlebih dahulu, untuk memberi logistic basah yang memang sengaja kita beli di sini karena melihat perjalanan yang begitu lama. Untuk menjaga kemungkina makanan nantinya akan busuk di jalan.
Untuk ongkos kita menyarter mobil yang langsung menuju plawangan sembalun, Rp.400.000 untuk 20 orang. Jadi disamping menghemat waktu karena besok pagi kita harus siap melangkah di batuan terjal Gn. Rinjani. Sekitar pukul 21.00 WIT, akhirnya kit atiba di gerbang plawangan sembalun. Malam itu rona binang menawarkan keindahan dengan suci rembulan oleh pancarnya. Dingin lembut mulai memasuiki ketika terpampang tebing yang menjulang joga oleh rimba gelap yang sunyi.

Setelah tiba, tak lama sebagian dari bagian kita memasak sarapan malam di penghujung malam. Serambi bercengkrama lepas di bawah kecerahan mala mini. Sebenarnya di Basecamp sembalun juga terdapat homestay yang TNGR (Taman Nasional Gunung Rinjani) tawarkan. Ya apa boleh buat, terkadang kehangatan dinding tak sehangat genggam erat kita menapaki gigil. Dan kita memutuskan melewati malam di sebuah halaman luas di depan BaseCamp.

Hingga kokok ayam menggugah kita oleh kelelahan. Selamat pagi surya, kali ini kerangkul pagi mu dengan seberkas cahaya dan secangkir kopi. Tak lama laju biscuit silih berganti mengadu, seolah tak ingin terbuka namun akhrnya kita buka dengan niat menemani Rokok filter yang mulai menyala. Rencana untuk memasuki track sekitar pukul 07.00 dan sekarang masih jam 06.00 WIT, kita masih sedikit mempunyai waktu untuk menikmati sorot fajar dari celah dinding pagi itu.

Dan pada sebuah pagi yang dingin, kita memberanikan diri untuk membasuh permukaan kulit dengan air di belakang dinding. Serambi sebagian dari kita regristasi dan mengurus perijinan yang diwajibkan membayar Rp.10.000 per orangnya.  Sekitar pukul 08.30 WIT, selagi semua tertunduk pada doa yang di panjatkan. Kiat kita untu mendaki gunung ini adalah karena kuasa-Mu Tuhanku, dengan segala kecil sujud pada besar belantara-Mu. Hasrat ini terpancar pada rona kekerdilanku yang busung

Bismillahirahman’nirahim, perlahan langkah mendekati Rinjani-Nya yang angkuh. Siang rona Matahari juga siul burung menemani dalam perjalanan kita. Terpampang luasan luas yang Indonesia tawarkan di hadapan kita. Ini memang benar surge pendaki yang Rinjani twarkan di setiap kemolekannya. Hingga kucuran keringat menenggelamkanku oleh riuh sepoi angin siang itu.  Sekitar 2ja perjalanan kita tiba di pos 1, sebuah pos yang mungil di hamparan luas savannanya.
Sesekali kita berpapasan oleh porter pribumi yang membawa beban dengan sebilah bamboo yang di ikat di 2 keranjang besar. Beban yang di bawa sekitar 50-60 kg, tentu bukan beban yang ringan. Panas juga indahnya savanna mendominasi jalur pendakian sembalun ini. Tak lama beristirahat lanjut menanjak melewati savanna yang tak kunjung habis indahnya.
Sekitar 1 jam berjalan kita tiba di pos 2, pos yang tidak begitu jauh dari pos 1. Waktu menunjukan pukul 12.00 WIT, panggilan perut sudah menari kita dalam ritual laparnya. Memutuskan segera untuk makan siang, dan shalat dzuhur di pertengahan terik di bawah naungan rindang pohon di sebrang jembatan yang menghubungkan antara tebing curam. Lauk kali ini sop dengan ikan asin yang tak lupa sambal pedas menepi di piring yang dipaparkan. Makan-Minum-merokok-Ngopi seolah menjadi siklus permanen di setiap harinya.
Jam menunjukkan pukul 13.30 WIT dan kita harus melanjutkan perjalanan sebelum petang tiba. Dan perjalanan masih tetap agak sedikit landau namun tanjakan tak luput menguras sisa keringat kita. Tiba di pos 3, pos akhir dari segala kelandaian track sepertinya. Karena didepan terpampang jelas bukit penyesalan dengan 9 bukit yang menanjak. Yah siapa yang tak kenal bukit ini, bagai symbol tanjakan rinjani yang memang jalur menuju Plawangan terlebih dahulu kita harus merangkul mesra bukit ini denga peluh kesah keringat dan gemetarnya kaki.
Sekitar jam 15.30  kita perlahan melangkah melewati satu per satu bukit penyesalan ini. Walau sedikit sisa tenaga yang tertampung, langkah kecil ini tetap menapaki setiap terjal tanjakan panjang. Seperti tak habis langkah bukit ini tak kunjung habis, hingga adzan magrib dating, masih saja kita berjuang melangkah demi menuju pelawangan sembalun. Pergantian senja ini kita sejenak beristirahat, oleh dingin kabut malam itu. Jarak mulai sedikit jauh, yang terlihat hanya sorot lampu dari bawah menuju ketinggian.
Dan oleh segala ucap dan rintihan doa yang menemani pijakan kaki ini, akhrnya Tim Kopi liar semua tiba di Plawangan Sembalun pukul 20.00 WIT, tak lama tenda berdiri, bara api membesar, ternyata masih ada 3 orang dari kita yang masih berjuang di belakang menjajaki bukit terjal penyesalan. Tak lama 2 orang dari tim menyusul turun, untuk memastikan bahwa nantinya tak terjadi sesuatu yang di inginkan. Setelah sekitar 1jam di rescue, akhrnya semua berkumpul sesuai yang direncanakan.
Kaki salah satu dari tim terkena hemstring, itu sebab mengapa 2 orang masih berada di belakang. Malam kali ini kita lewati di plawangan sembalun, yang terpampang Nampak luas biru segara nak dari ketinggian. Memang cukup melelahkan malam ini, sehingga tertidur pulas kita di balik tenda yang tertancap.
Hingga pagi surya membangunkan kita pada gempita malam yang begitu lelah, tiba saatnya melakukan aktftas lagi. Racikan sayuran serta menanak nasi untuk makan pagi. Terpampang jelas segara anak dengan gunung baru yang menjulang. Tak menyangka ternyata semalam tenda kita berdiri bukan di plawangan sembalun, akan tetapi masih di gerbang menuju pelawangan sembalun, sedikit lagi sih, Cuma untuk mencari sumber air masih lumayan jauh sekitar 30menit berjalan kaki. Tak lama kita packing tenda setelah makan pagi, untuk menuju ke plawangan sembalun sebenarnya. Terlihat satu bukit mungil di hadapan mata, dan plawangan sembalun ada di balik bukit itu. Kedatangan kita di sambut oleh puluhan kera yang asik bermain di pinggir tebing.
Juga sosok puncak yang sudah jelas terlihat tinggi mengudara di balik biru cakrawala siang itu. Aktifitas siang ini adalah bersantai ria, karena nanti subuh kita akan summit attack menuju uncak rinjani. Ada juga sebagian dari tim yang rela turun ke segara anak untuk memancing. Hingga terbenam matahari, menyaksikan jingga rona surya yang tenggelam. Pada batas kabut sosoknya menyentuh pada dinding lembah. Inilah Indonesia, dimana segala olehnya adalah jutaan anugrah bagi kita yang ditawarkan.
Bara api mulai rintik menyala pada pergantian sore-malam. Dan hangat ramah tawa mengelilingi di atas plawangan sembalun. Hingga kita dipaksa untuk mengenakan jaket kembali karena suhu yang dingin. Tak lama 3 orang teman kami yang tadinya memancing tiba, membawa ikan. Sebuah kabar bahagia, karena bara api juga merona. Tak lama ikan terpanggan, menggeliat lentik agar nantinya di santap untuk menemani malam kita di plawangan sembalun.
Akhirnya malam berada tepat di sisi rembulan, bintang juga tak kalah berpijar pada bias kabut malam ini. Pukul 01.00 WIT sudah terlihat juga terdengar jejak langkah para pendaki lain yang bersiap untuk menggapai puncak rinjani. Kami pun tak ambil banyak waktu. Tak lama kemudian prepare tim segara dilakukan, dan satu per satu dari kita bngun untuk menyiapkan segala sesuatu yang memang harus disiapkan. Gigil malam itu memang kejam menghantui piker agar tak segera beranjak. Namun karena puncak sudah ada dalam baying, segeralah kita berkumpul untuk berdoa sebelum langkah kaki ini menyentuh medan.
Bismmillahirohmaniroim, dalam gigil kita ucap penuh makna, agar nantinya semua masih pada apa yang kita rencanakan. Perlahan langkah ini menapaki track pasir yang di suguhkan pagi itu, sekitar pukul 03.00 WIT, dalam gelap juga hembusan angina kecil tak luput melengkapi suasana. Nampak para wisatawan asing dengan langkah panjangnya mendahului kita secara perlahan.
Semburat pagi tak lama muncul, pancarannya memberikan semangat penuh oleh langkah kita yang hampir memudar. Terpaan angin mulai agak kencang, juga dengan medan pasir yang semakin menyusahkan kita melangkah. Namun tekad kita untuk mengibarkan bendera kopi liar tak kunjung surut. Sekitar pukul 06.30 WIT, akhrnya seluruh tim sampai di puncak tertinggi gunung rinjani, walau 3 orang ternyata ada yang sudah tidak kuat lagi menapakkinya. namun Indonesia raya sekali lagi berkumandang lantang di puncak tertinggi gunung rinjani. Sungguh jendela cakrawala luas membentang, terlihat gunung agung dengan bias paginya, dan gunung tambora yang kokoh menghadap.
Ini adalah moment yang di idamkan banyak pendaki, dimana pijakan jutaan orang telah mencapai puncaknya. Tak luput derai air mata bahagia jadi saksi bahwa kita telah menyentuh ke-Agungan Tuhan Yang Maha Besar ini. Hingga mulut tak mampu mengucap, juga jabat erat oleh perjuangan kita hingga sampai pada batas kekerdilannya. Rinjani, yah ini adalah sebuah gunung, sebuah surge kecil yang puluhan malaikat kecilnya ada disetiap hela keringat, nafas dan keluh kesah kita. Moment itupun tak luput kita abadikan dengan kamera. Setelah sekitar 30menit di puncak tertinggi gunung Rinjani, akhrnya kita turun, menuju persinggahan tenda di plawangan sembalun
Senyum kecil ini menjatuhkan kita pada lembah kebahagiaan, pada seutas tawa dan diantara riuh belantara. Sesekali masih menawarkan elok pulau Lombok dari ketinggian. Hingga tak lama tiba kita di plawangan sembalun. Suasana hangat kembali, serambi bercerita. Oleh secangkir the dan segelas kopi yang juga turut mengutarakan sepoi angina siang itu. Sebelum jam 12.00 WIT kita harus sudah turun, menuju segara anak, sebelum fajar menjelang.
Tak lama kita bergegas turun, menuruni jalur terjal menuju plawangan sembalun. Sudah terlihat memang, lambaian tangannya di balik ranting daun siang itu.Terik matahari menguras keringat yang akhrnya menetes. Medan pertama kita menuruni tebing yang melingkar seperti ular, batuan cadas masih membentang di setiap jalan. Matahari serasa tepat di atas kepala kita. Tak selang lama berjalan Nampak porter dan wisatawan asing sedang berjuang melewati tebing yang menanjak.
Sekitar 2jam kita menuruni tebing untuk menuju ke segara anak, beserta kabut di dinding tebing, kedatangan kita serontak menawarkan oleh takjubnya segara anak. Hari sudah mulai gelap, bergegas tenda pun mulai kita bentangkan kembali untuk melewati mala mini. Sudah banyak tenda yang berdiri, terlihat juga para pendaki lain yang sudah memasang kail pancingnya untuk bersiap memancing di malam hari. Ada juga warga pribumi yang hanya sekedar dating ke segara anak hanya untuk memancing dan menikmati indahnya Danau segara anak. Sebagian dari kami masih memasang tenda, dan bersiap menyiapkan menu makan malam. Juga serambi menghangatkan tubuh di sumber mata air panas, yang jaraknya tak jauh dari segara anak, sekitar 15menit berjalan kaki ke arah belakang.
Dan malam begitu hangat oleh canda tawa kami, dengan sedikit bara api dan secangkir kopi malam itu. Berharap semoga malam ini berhenti, agar kita bisa lama menatap ribuan bintang dan bulan yang memancar. Hingga kembali fajar membangunkan lelah malam kita. Nampak biru menjulang di atas lembayung cakrawala yang sinarnya tak henti menyuguhkan keindahan. Segara Anak adalah danau kawah Gunung Rinjani di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat,Indonesia. Nama Segara Anak berarti anak laut diberikan untuk itu karena warna biru mengingatkan danau laut.
Banyak hal menarik yang dapat dilakukan di danau ini. Di danau ini terdapat banyak ikan mulai dari ikan nila, mas, dan mujair. Ikan-ikan ini sengaja dikembangbiakkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat untuk menambah daya tarik tersendiri dari danau segara anak. Jangan lupa untuk menyiapkan peralatan pancing bagi anda yang berminat mendaki gunung Rinjani. 
Rencana kita pulang packing dan melanjutkan perjalanan siang ini, sangat saying keindahanmu segara anak, sejenak kita harus berat hati meninggalkanmu. Sekitar jam 13.00 kita bersiap memasukkan segala perlengkapan yang harus di bawa pulan menuju senaru. Sekitar jam 14.00 WIT kita fix untuk meninggalkannya, keindahanmu sejenak tersirat dalam bayang abadi. Untuk menuju senaru, kita harus menaiki tebing yang cukup tinggi dari segara anak. Plawangan senaru, adalah medan yang menanjak ketika kita memulai berjalan kembali dari segara anak. 
Setelah 3jam berjalan, seiring bergantinya menuju petang, kita tiba di plawangan sembalun, sebuah gerbang masuk apabila kita naik gunung rinjani melalui senaru. Terlihat tenda-tenda pendaki lain yang sedang menikmati malamnya di plawangan senaru ini. Pada mula nya kita memang langsung menuju senaru, namun salah satu dari kita ada yang drop di tengah perjalanan, jadi akhirnya 1 malam kita habiskan di plawangan senaru, untuk besok paginya sebriap menuruni medan kembali, berpacu melewati rimbun nya jalur ini. 
Malam ini tak kami sia2kan untuk melihat indah panorama malam, dan bergegas istirahat agar stamina kembali. Oleh lingkaran pagi menjemput sosok ke Agungan plawangan senaru yang megah. Hingga sekitar pukul 06.00 WIT kita turun melewati medan menuju Senaru. Track saat ini tak se panas jalur sembalun, karena hutan dan pepohonan yang rapat mendominasi setiap langkah kita. Hingga sekitar 4jam berjalan tiba kita pada gerbang pendakian senaru, sebuah gerbang kebahagiaan juga kesedihan bagi kita, dimana kita harus sejenak meninggalkanya Rinjani, mengukir indah kenangan panoramamu oleh setiap pikirku. Dan nampak warung kecil di sudut kanan gerbang ini, tak ambil lama kita memesan segala bentuk apapun itu yang kita inginkan. Es susu, dan minuman bersoda silih berganti mengali di setiap hela tenggorokan. 

"Dan inilah kisah kita, dimana sebuah jendela cakrawala tepat berada di surga nyata Gunung Rinjani. Surga kecil yang tak kan pernah kita lupakan, sebuah persaudaraan abadi, diman kita menggenggam resah memikul asa di bawah terik-Nya. Dimana kita memacu rindu oleh keabadian-Nya, dari tapal batas yang tak berujung. Kau Rinjaniku, mengisahkan tentang segala kisah yang kelak kukabarkan"

Terima kasih kupanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh segala keindahanmu yang Kau berikan untuk Aku Indonesiamu, Kedua orang tua kami dengan rahmat serta restu di setiap malam panjangku, dan terima kasih pada merah putihku, yang kali ini membentang megah di atas sana, Komunitas Kopi Liar yang dalam setiap hembusan nafasku kau yang mengajari kita tentang arti sebuah Persaudaraan Abadi, Dan seluruh anggota Komunitas ini yang tak bisa kita sebut satu per satu, Senyum ini untuk kalian, jerit lantang juga tangis ku merambah ujung cakrawala seutuhnya hanya pada seikat genggam tangan kita yang tak terlepas.


Photo-Photo Dokumentasi :


link video film dokumentasi kami http://www.youtube.com/watch?v=AOhZkIvg-tk









































Selasa, 23 Juli 2013

Ayo Menanam, Jadikan Hutanku Hijau Kembali




“Menebang dan Merusak Hutan Berarti Sama Saja
Membunuh Ribuan Nyawa Manusia”

            Sebuah kutipan kata tersebut kami dapatkan ketika kami bertemu dengan Mbah Amien salah satu sesepuh desa Sigedang, Wonosobo yang juga menjadi Juru Kunci Gunung Sindoro yang saat ini mulai kehilangan habitat lindungnya karena kebakaran hutan yang terjadi beberapa bulan lalu.
Sebuah ungkapan yang miris memang ketika seharusnya manusia dapat hidup berdampingan dengan hutan serta menjaganya agar terjaganya ekosistem kini malah justru rusak karena perbuatan manusia sendiri yang tidak memiliki kesadaran untuk menjaga dan merawat hutan. Di Gunung Sindoro sendiri bukan menjadi hal yang baru dari persitiwa kerusakan dan kebakaran hutan, seakan- akan sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat ketika melihat Gunung Sindoro ini terbakar setiap 5 tahun sekali dimana hutan yang terbakar selalu saja disebabkan oleh gesekan dedaunan yang panas akibat musim kemarau yang berkepanjangan, namun faktanya tidak akan selalu demikian, hutan lindung Gunung Sindoro yang berada di dalam pengawasan perhutani tidak seluruhnya menjadi sebuah lahan konservasi dan dilindungi oleh perhutani, ada yang sebagian lahan hutan yang kemudian dialih fungsikan menjadi perladangan dan sebagian lagi dijual kepada pihak swasta untuk dijadikan sebagai areal perkebunan teh. Selain itu ada beberapa asumsi yang mencoba untuk mengungkap terkait kinerja perhutani setempat yang menjadikan kawasan hutan lindung Gunung Sindoro sebagai proyek dari kementrian kehutanan, yang kemudian membakar hutan untuk mendapatkan kucuran dana untuk mengkonservasi kembali hutan yang terbakar padahal tidak sepenuhnya kucuran dana yang diberikan oleh pemerintah dianggarkan untuk perbaikan konservasi hutan lindung Gunung Sindoro yang sengaja dibakar untuk mendapatkan keuntungan dari dinas terkait serta perhutani setempat. Hal ini mebuktikan tidak adanya kepedulian bagi dari dinas terkait dalam menjaga dan merawat hutan sebagai sumber resapan air dan mencegah terjadinya bencana alam akibat erosi tanah pengunungan maupun banjir bandang.
Peran serta masyarakat dalam membentuk sebuah kesadaran untuk mengembalikan fungsi dan kondisi hutan pada  sedia kala menjadi sangatlah penting, dimana masyarakat masih perlu bergantung pada hutan. Dengan hal ini beberapa orang dari masyarakat dukuh Sikatok, kabupaten Wonosobo memiliki inisiatif untuk membentuk KPDH (Kelompok Pelestarian Desa Hutan) yang saat ini di ketuai oleh Wahyu Slamet yang kini juga banyak memiliki peran untuk mengawali kegiatan penanaman dan penghijauan di sekitar dukuh Siaktok. Wahyu Slamet sendiri menuturkan bahwa kondisi Gunung Sindoro saat ini teramat memprihatinkan, terjadinya kebakaran hutan beberapa bulan yang lalu di akhir tahun 2012 dan bergantinya sebagian lahan hutan untuk wilayah perladangan menjadi salah satu penyebab mengapa cuaca di Gunung Sindoro saat ini tidak menentu, bahkan bisa disebut rawan untuk di daki oleh para wisatawan maupun para pencinta alam.
Selain kondisi Kawah Gunung Sindoro yang mulai aktif saat ini, kondisi kabut tebal dan angin besar hampir setiap hari selalu menyelimuti kawasan jalur pendakian yang hampir sebagian pepohonannya habis terbakar beberapa bulan lalu. Selain itu Wahyu Slamet juga menyesalkan dengan sikap masyarakat dukuh Sikatok yang masih kurang kesadaran untuk dapat menanam dan merawat pohon yang terdapat di sepanjang jalur pendakian menuju puncak Sindoro. “Memang Mas, masyarakat Sikatok saat ini lebih tertarik pada penanaman bibit yang memiliki nilai ekonomis, seperti kentang, kopi maupun teh yang semuanya dapat menghasilkan pemasukan keuangan bagi masyarakat dukuh Sikatok, mas”. Demikian yang disampaikan Wahyu Slamet ketika beberapa kali bertemu dengan kami di kediamannya di Sikatok, Wonosobo.
Lantas bagaimana dengan teman- teman mahasiswa ketika melihat kondisi hutan- hutan di Gunung Sindoro yang dahulu sangat indah dengan berbagai macam tumbuhan dan hewan di dalamnya saat ini mulai terancam pada kepunahan akibat kondisi hutan yang terbakar, bahkan beberapa tahun kedepan masyarakat maupun kita sebagai mahasiswa tidak  akan pernah melihat kembali  kemegahan Gunung Sindoro lagi dari sudut langit- langit kota Wonosobo dan Temanggung, dikarenakan terjadinya erosi besar- besaran yang mulai mengikis dataran Gunung Sindoro, yang turun berlahan dalam bentuk banjir bandang maupun tanah longsor.
Sebuah inisiatif yang seharusnya kita lakukan dalam bentuk kembali mengkonservasi kawasan hutan lindung di wilayah dukuh Sikatok demi terjaganya lingkungan dan lestarinya alam di kawasan Gunung Sindoro. Kesepakatan untuk membentuk sebuah fรณrum kepedulian terhadap lingkungan hidup mengharuskan kami untuk melakukan gerakan penanaman kembali di jalur pendakian Gunung Sindoro pada tanggal 24 Maret 2013, yang kemudian nantinya ingin mengajak teman- teman seluruh mahasiswa Yogyakarta untuk dapat ikut serta dalam kegiatan penanaman ini, “mari menanam demi kelestarian dan kembalinya fungsi hutan bagi kehidupan anak cucu kita kelak.” (Angga, Psej’09)

Pendakian gn.merapi pasca erupsi tahun 2010




Hari itu hari jum’at tanggal 08 Juli 2011,kami ber-3(roni kramadangsa,aan goban dan saya sendiri kippli frankenstein)berencana mendaki gn.merapi. Sebenarnya itu acara dadakan,gimana ga dadakan coba,ide muncul sekitar pukul 14.00,jam 15.00 prepare,jam 18.00 kita udah berangkat.
tujuan kami adalah ds.selo boyolali,kami berangkat dari kos sekitar jam 18.00an lah dengan peralatan yang boleh dikatakan minim,tapi tetep safety kok.

Perjalanan ke ds.selo kami tempuh kira-kira 2 jam lewat magelang,jam 20.14 kami tiba di basecamp di desa Selo kab.boyolali. sesampai di sana kami beristirahat sebentar karena rencana awal kami mulai mendaki pada pukul 23.00,dengan maksud untuk melihat sun risenya.

Perjalanan dari basecamp kira-kira kami tempuh sekitar 4-5jam untuk sampai ke puncak merapi. Tidak lama kami berjalan,secara tidak sengaja lampu senter menyorot sosok tubuh manusia dari balik rimbunan ilalang. Kami kaget,takutnya kalau itu mayat yang dibuang. Supaya tidak memperkeruh suasana yang mulai enjoy,mas aan meminta saya dan mas roni untuk lanjut terus dan jangan dipikirkan.

Perjalanan kami lumayan berat dikarenakan tracknya yang menanjak,berbatu,berpasir campur sisa-sisa debu vulkanik sisa erupsi kemarin. Alhasil jalanan menjadi licin dan gelap pula. Tapi dengan penuh semangat kami hajar habis itu track.

Jam 04.00 dini hari kami tiba di tempat yang dinamakan pasar bubrah tepat di bawah kawah/puncak merapi dan masih diselimuti abu vulkanik yang sangat tebal,sehingga disarankan memakai masker atau penutup hidung supaya partikel-partikel dari abu tersebut tidak masuk ke pernafasan. Konon ceritanya kenapa bisa dinamakan pasar bubrah itu karena kalau ada pendaki yang kehabisan bekal di tempat itu,tempat itu berubah jadi rame layaknya pasar,tapi anehnya,apabila kita membeli sesuatu di pasar bubrah itu,penjualnya ga mau dibayar sepeser pun. Itulah kenapa dinamakan pasar bubrah.

Sesampai di pasar bubrah,kami langsung mempersiapkan peralatan untuk memmasak air untuk bikin kopi dengan maksud bisa sedikit mengurangi hawa dingin yang menusuk tulang.Karena di sana memang terkenal dengan dinginnya dan cuaca yang susah ditebak.Kami tidak mendaki ke puncak dikarenakan puncak masih labil akibat erupsi  2010 dan memang sudah diingatkan ketika kita mendaftar perijinan di basecamp pendakian.

Ketika sedang menikmati kopi,sun rise pun muncul dari kejauhan,Subhanallah indah sekali. Memang tidak ada yang bisa menandingi ciptaan Tuhan YME.

Setelah puas menikmati segelas kopi dan hangatnya sunrise kami pun bersiap untuk turun kembali ke basecamp yaitu basecamp ds.Selo.Desa terakhir yang terletak tepat di bawah gunung merapi.
Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya pribadi,karena ini merupakan pendakian pertama kali ke gn.merapi.

Bukanya saya mau menyombong,saya Cuma ingin menuliskan perjalanan saya sebagai memori supaya tidak pernah hilang.Lakukan itu supaya memori kalian tidak pudar seiring berjalannya waktu selain foto!     -SEKIAN-
-dheni wijaya a.k.a kippli-  15 Juli 2011






Selasa, 16 Juli 2013

GUNUNG PAPANDAYAN-GARUT


Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten GarutJawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.
Pada Gunung Papandayan, terdapat beberapa kawah yang terkenal. Di antaranya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.
Topografi di dalam kawasan curam, berbukit dan bergunung serta terdapat tebing yang terjal. Menurut kalisifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/thn, kelembaban udara 70 – 80 % dan temperatur 10 ยบ C. -WIKIPEDIA-

Perjalanan kita kali ini yaitu menapaki gunung papandayan. Siang itu, tim yangberangkat menuju gunung ini berjumlah 3 orang, alvian fendy (gimbal), Syariffudin (ncap), Bagus salah satu saudara baru kita dari kalimantan yang kebetulan singgah di Kopi Liar untuk mencoba perjalanan ini.

Sekitar pukul 12.00 kita berangkat dari jalur menuju puncak, yaitu Ciawi. Dimana kepadatan mulai terasa karena memang pada saat itu weekand dan musim liburan. Rencana kita memang berangkat melalui jalur puncak bogor akan tetapi melihat situasi yang abnormal itu kita beralih haluan untuk menuju kampung rambutan dan memilih jalur bis yang masuk tol Cipularang. 
Bis Kampung rambutan-Garut

Dan akhrnya kita tiba di Kampung Rambutan, tak lama setelah mengisi perut dengan sepiring nasi untuk melakukan perjalanan panjang ini, kita naik bis. Pada saat itu ongkos bis yang kita tumpangi RP. 38.000,00 setelah kenaikan harga bbm yang melambung tinggi memaksakan juga tarif bis yang melonjak. Namun bis Kampung Rambutan-Garut cukup nyaman, dengan smoking area di dalamnya, memaksa kita untuk tetap ngebul di dalam bis meski dingin ac tetap menyala.

Garut, sebuah kota yang dingin dimana di apit banyak pegunungan, diantaranya Gunung Guntur, Cikuray dan papandayan sendiri, juga masih banyak diantara perbukitan-perbukitan hijau lainnya. Hingga tiba kita di terminal bis Garut yang malam itu terlihat sepi, sekitar pukul 20.00 wib. Langsung saja kita mencari angkutan yang menuju Kajang, salah satu kecamatan kecil yang berada di kaki gunung Papandayan. Dengan ongkos normal Rp. 10.000,00 kita bisa menuju Kajang. Namun malam itu, mungkin karena hari minggu dan sudah begitu malam, kita kena ongkos Rp. 15.000 per orang.
Angkutan menuju Kajang


Tiba di pertigaan kajang, sekitar pukul 00.000 wib, sudah terlarut malam untuk melanjutkan perjalanan, namun karena kita harus naik malam ini, akhrinya kita naik ke atas. dari sini menuju basecamp pendakian Gunung papandayan harus masih menyewa pick up, yang biasanya satu orang RP. 15.000 untuk sampai ke atas, namun karena kita bertiga mau tidak mau haru membayar ongkos  rombongan, yaitu Rp.100.000 satu mobil. Standar sih, daripada kita harus jalan melewati perkampungan dan hutan belantara. 
Pick up menuju basecamp

Akhrinya kita tiba di basecamp papadayan pukul 01.00 wib, dengan dingin juga jutaan bintang menjadi penuntun langkah awal kita menapaki gunung yang indah ini. Setelah membuat mie setelah menahan lapar yang berkepanjangan. Dan kita menapaki malam di Gunung Papandayan. untuk biaya masuk gunung ini kita dikenakan Rp. 2000 sebelum masuk kawasan. Cukup murah bukan, untuk menikmati pemandangan yang sunggu indah.
setelah melewati kawah Gn. Papandayan

Santai


Sekitar berjalan 20menit bau menyengat belerang sudah menusuk hidung, itu pertanda kita sudah memasuki bibir kawah. Jutaan bintang juga tak luput dari mata memandang. Dan masih kita melangkah melewati kawah menuju perbukitan yang jalannya sedikit menanjak. Hingga setelah berjalan 2 jam kita tiba di taman seladah, tempat dimana nantinya kita mendirikan tenda. perjalanan yang santai, mata yang ngantuk dan lemasnya badan setelah mengarungi perjalanan menggunakan bis, memaksa kita segera memasang tenda dan bermalam disini. 

Pagi harinya, semburat sinar fajarnya membangunkanku melalui mimpi indah di dingin pagi. Di hadapan sudah terlihat asap kawah yang mengepul, juga tawa canda para pendaki lain yang bermalam disini. Tak lupa menyiapkan kopi hitam untuk menemani kita di pagi yang cerah ini.
Pagi hari

pemandangan pagi

Jangan lupa Kopi nya

Cooking

Sarapan pagi ini juga siap untuk di santap, Sop, telur ceplok, dan kentang balado siap untuk mengisi perut yang lapar. Setelah habis menyantap menu yang tersedia, kita akhrnya menuju Tegal alun, yang ribuan padang edelweisnya menunggu kita di ketinggian sana. Sebuah padang edelweis yang bermekaran, menambah semangat langkah ini menanjaki tebing tiap tebing yang curam. Hingga pada akhirnya bendera KOPILIAR berkibar melihat dari tingginya cakrawala biru.
Padang Edelweis

Edelweis 
Dan  tak lama kita menuju ke hutan mati, sebuah hutan yang terkena erupsi hingga mengakibatkan pohon pohon disana mati. hanya batang pohon tanpa daun hijau yang tersisa, sungguh eksotis alam yang luar biasa. Berada di bawah tegal alun, dan kita turun kembali melewati tebing untuk menuju hutan mati.
menuju hutan mati

bendera kebangsaan kopiliar

hutan mati I

hutan mati II
Setelah puas menikmati panorama hutan mati yang memang menawarkan berjuta keindahannya, akhirnya kita turun untuk bersiap packing dan turun menuju basecamp bawah papandayan. Perjalanan singkat ini, sungguh berkesan

Untuk Tuhan kita Komunitas Kopi Liar Saudara Kopi Liar di segala sudut belantara Indonesia, semua ini hanya untuk kita kamu dan mereka yang menganggumi dan senantiasa menjaga yang telah tercipta.
Terima kasih Papandayan, yang memberi keindahan warna baru dari setiap langkah ini menapak
kounitas kopi liar indonesia

weareyou

melewati sungai papandayan


basecamp papandayan